Saturday, March 28, 2015

Virtual Community and Organic Community's Lives

Teknologi komunikasi saat ini berhubungan erat dengan virtual community. Virtual community pertama kali dicetuskan oleh Rheingold dalam bukunya yang berjudul The Virtual Community: Homesteading on the Electronic Frontier (2000), dalam buku ini Rheingold menceritakan pengalamannya tentang menjadi bagian dari komunitas virtual pertama, WELL (Whole Earth ‘Lectronic Link). Di dalam buku ini juga disebutkan bagaimana orang-orang menggunakan layar untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mereka yang ada di virtual community bisa melakukan apa saja yang dilakukan orang-orang dalam dunia nyata seperti bertukar informasi,menemukan teman, bergosip, jatuh cinta, merayu atau flirting, bahkan hingga bertengkar dengan orang lain tetapi kita meninggalkan tubuh kita di belakang. Kita tidak bisa mencium seseorang dan tidak ada seorang pun yang kan memukul kita di hidung (1993). Virtual community ini muncul karena new media seperti internet.
New media ini, menurut Dennis McQuail (1995) memiliki beberapa karakteristik, salah satunya adalah peningkatan komputer dalam pekerjaan. Merujuk pada masa kini, pernyataan McQuail ini benar-benar terbukti. Di jaman yang serba digital ini sebuah pekerjaan tidak pernah bisa lepas dari komputer. Adanya komputer benar-benar mempermudah pekerjaan kita, contohnya saja untuk siswa dan mahasiswa, kita tak perlu lagi menulis dengan tangan untuk menyelesaikan sebuah tugas, semua bisa beres dengan hanya mengetik di keyboard komputer. tetapi, komputer tanpa di dukung dengan jaringan yang mumpuni seperti satelit jelas akan menjadi barang yang kegunaannya tidak maksimal seperti sekarang. McQuail juga menjelaskan karakteristik yang lainnya adalah satelit. Melalui satelit penyebaran berita, penyiaran berita melalui media seperti Tv dan Radio menjadi lebih cepat dan langsung dapat disampaikan ke khalayak luas.
Berkomunikasi melalui media tentu membawa sebuah dampak bagi penggunanya. Dampak positif dari penggunaan internet, secara umum mempermudah kita berkomunikasi dengan orang lain melalui sosial media contohnya, mencari informasi tentang hal-hal baru juga mudah. Tetapi, bukan berarti hal positif tersebut tidak ada dampak negatifnya. Dampak negatifnya adalah berkurangnya kualitas komunikasi tersebut. Deddy Mulyana menyebutkan kalau berkomunikasi dengan media dikhawatirkan akan menciptakan imperfect communication yaitu bentuk komunikasi yang tidak sempurna yang mengesampingkan konsep meet dan face-to-face yang nyata.
Adanya virtual community pasti berhubungan erat dengan organic community atau offline community. Komunitas organik ini adalah kehidupan nyata yang kita jalani bukan dunia maya. Organic community terikat oleh ruang dan waktu, kita tidak bebas melakukan perbincangan dengan orang lain pada tengah malam, misalnya. Berbeda dengan virtual community yang bebas kapan saja tanpa terikat ruang dan waktu. Kemudian, dalam organic community anggotanya saling terikat berdasarkan tingkatan umur.
Mereka yang berada di virtual community adalah orang-orang dengan latar belakang berbeda, tetapi mereka terikat oleh satu aktivitas khusus, misalnya untuk berkomunikasi saja, atau bermain game online. Mereka yang terlalu aktif di virtual community cenderung memiliki kebiasaan buruk, akan berangsur-angsur meninggalkan organic community karena mereka merasa tidak ada yang sama dengan mereka layaknya dalam virtual community. Biasanya dalam virtual community ini berisi orang-orang dengan kepentingan yang sama misalnya adanya milis pecinta novel klasik. Di organic community sulit menemukan orang yang menyukai novel klasik karena terbatasnya ruang tadi, tetapi dalam virtual community semua terlihat mudah dan mungkin.
Identitas pun diperlukan dalam virtual community. Jika dalam organic community identitas kita adalah nama yang diberikan oleh orang tua kita dengan segala sifat dan watak yang ada dalam diri kita, maka dalam virtual community, kita sebagai pengguna internet kita jugalah yang membentuk identitas diri kita. Kita dapat menentukan karakter seperti apa yang akan kita tampilkan di dunia maya ini. Ingin menjadi pribadi yang baik atau yang buruk. Identitas ini terlihat jika kita sedang mengobrol dengan orang lain seperti nama ID. Nama ID yang paling terlihat adalah nama yang muncul ketika kita akan main game online. Biasanya dalam game kita diminta untuk menuliskan nama karakter yang akan kita mainkan. Dari sini dapat terlihat bahwa kita sudah membuat identitas kita dalam dunia maya.
Virtual community ini bisa disangkut-pautkan dengan komunitas fans virtual misalnya fans dari artis Korea akan membuat sebuah akun yang berisi informasi artis yang diidolakannya. Pertanyaan seputar hal ini pun dimunculkan oleh salah seorang teman saya dalam kelas Teknologi Komunikasi, yaitu apakah virtual community layaknya fanbase jika melakukan kopdar (kopi darat) atau gathering akan menjadi sebuah organic community? Jawaban yang memungkinkan dari pertanyaan ini adalah virtual community yang bertemu dalam dunia nyata tidak akan dapat menjadi sebuah organic community, karena memang konsepnya yang berbeda. mereka hanya bertemu sesekali tidak bertemu setiap hari sangat sulit untuk dapat dikatakan mereka berubah menjadi sebuah komunitas organik. Lain ceritanya jika orang yang bertemu di virtual community itu bertemu di dunia nyata kemudian memiliki ide untuk membuat sebuah organisasi yang nyata berbentuk sedemikan rupa layaknya organisasi kebanyakan, maka hal ini dapat dikatakan virtual community yang berubah menjadi organic community.

Satu hal yang perlu kita ketahui dalam dunia yang serba digital dan smart ini. Jangan sampai kita terbuai dengan nyamannya dunia maya dan teknologi yang ada. Karena teknologi diciptakan oleh orang-orang yang ahli pada bidang ini untuk memudahkan kita, untuk membantu kita bukan teknologi yang membentuk kita dan kita yang jadi dikendalikan oleh teknologi. Visual community kenyataannya hanyalah pelengkap organic community, selamanya virtual community tidak akan pernah menggantikan keberadaan organic community. Kemudian lebih lanjut lagi, interaksi secara nyata tetap diperlukan, karena tidak dapat dipungkiri kita berinteraksi dengan dengan orang lain, pada saat ini, lebih sering melalui media sosial, bahkan ketika berkumpul dengan teman-teman kita lebih asyik dengan gadget yang kita miliki. Keberadaan teknologi komunikasi dan virtual community sesungguhnya akan mendekatkan kita dengan teman, keluarga dan kerabat yang berada di tempat jauh, bukan menjauhkan yang dekat. Saya sendiri sering mengingatkan diri saya untuk tidak seperti ini, tetapi kenyataannya saya juga sangat terikat dengan media sosial dan smartphone yang ada di tangan.

Referensi:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication, London.