Teknologi
komunikasi saat ini berhubungan erat dengan virtual
community. Virtual community
pertama kali dicetuskan oleh Rheingold dalam bukunya yang berjudul The Virtual Community: Homesteading on the
Electronic Frontier (2000), dalam buku ini Rheingold menceritakan
pengalamannya tentang menjadi bagian dari komunitas virtual pertama, WELL (Whole Earth ‘Lectronic Link). Di dalam
buku ini juga disebutkan bagaimana orang-orang menggunakan layar untuk
berkomunikasi dengan orang lain. Mereka yang ada di virtual community bisa
melakukan apa saja yang dilakukan orang-orang dalam dunia nyata seperti
bertukar informasi,menemukan teman, bergosip, jatuh cinta, merayu atau
flirting, bahkan hingga bertengkar dengan orang lain tetapi kita meninggalkan
tubuh kita di belakang. Kita tidak bisa mencium seseorang dan tidak ada seorang
pun yang kan memukul kita di hidung (1993). Virtual
community ini muncul karena new media
seperti internet.
New media ini, menurut Dennis McQuail
(1995) memiliki beberapa karakteristik, salah satunya adalah peningkatan
komputer dalam pekerjaan. Merujuk pada masa kini, pernyataan McQuail ini
benar-benar terbukti. Di jaman yang serba digital ini sebuah pekerjaan tidak
pernah bisa lepas dari komputer. Adanya komputer benar-benar mempermudah
pekerjaan kita, contohnya saja untuk siswa dan mahasiswa, kita tak perlu lagi
menulis dengan tangan untuk menyelesaikan sebuah tugas, semua bisa beres dengan
hanya mengetik di keyboard komputer. tetapi,
komputer tanpa di dukung dengan jaringan yang mumpuni seperti satelit jelas
akan menjadi barang yang kegunaannya tidak maksimal seperti sekarang. McQuail
juga menjelaskan karakteristik yang lainnya adalah satelit. Melalui satelit
penyebaran berita, penyiaran berita melalui media seperti Tv dan Radio menjadi
lebih cepat dan langsung dapat disampaikan ke khalayak luas.
Berkomunikasi melalui
media tentu membawa sebuah dampak bagi penggunanya. Dampak positif dari
penggunaan internet, secara umum mempermudah kita berkomunikasi dengan orang
lain melalui sosial media contohnya, mencari informasi tentang hal-hal baru
juga mudah. Tetapi, bukan berarti hal positif tersebut tidak ada dampak
negatifnya. Dampak negatifnya adalah berkurangnya kualitas komunikasi tersebut.
Deddy Mulyana menyebutkan kalau berkomunikasi dengan media dikhawatirkan akan
menciptakan imperfect communication
yaitu bentuk komunikasi yang tidak sempurna yang mengesampingkan konsep meet dan face-to-face yang nyata.
Adanya virtual community pasti berhubungan erat
dengan organic community atau offline community. Komunitas organik ini
adalah kehidupan nyata yang kita jalani bukan dunia maya. Organic community terikat oleh ruang dan waktu, kita tidak bebas
melakukan perbincangan dengan orang lain pada tengah malam, misalnya. Berbeda dengan
virtual community yang bebas kapan
saja tanpa terikat ruang dan waktu. Kemudian, dalam organic community anggotanya saling terikat berdasarkan tingkatan
umur.
Mereka yang
berada di virtual community adalah
orang-orang dengan latar belakang berbeda, tetapi mereka terikat oleh satu
aktivitas khusus, misalnya untuk berkomunikasi saja, atau bermain game online. Mereka yang terlalu aktif
di virtual community cenderung
memiliki kebiasaan buruk, akan berangsur-angsur meninggalkan organic community karena mereka merasa
tidak ada yang sama dengan mereka layaknya dalam virtual community. Biasanya dalam virtual community ini berisi orang-orang dengan kepentingan yang
sama misalnya adanya milis pecinta novel klasik. Di organic community sulit menemukan orang yang menyukai novel klasik
karena terbatasnya ruang tadi, tetapi dalam virtual
community semua terlihat mudah dan mungkin.
Identitas pun
diperlukan dalam virtual community. Jika
dalam organic community identitas
kita adalah nama yang diberikan oleh orang tua kita dengan segala sifat dan
watak yang ada dalam diri kita, maka dalam virtual
community, kita sebagai pengguna internet kita jugalah yang membentuk
identitas diri kita. Kita dapat menentukan karakter seperti apa yang akan kita
tampilkan di dunia maya ini. Ingin menjadi pribadi yang baik atau yang buruk. Identitas
ini terlihat jika kita sedang mengobrol dengan orang lain seperti nama ID. Nama
ID yang paling terlihat adalah nama yang muncul ketika kita akan main game online. Biasanya dalam game kita
diminta untuk menuliskan nama karakter yang akan kita mainkan. Dari sini dapat
terlihat bahwa kita sudah membuat identitas kita dalam dunia maya.
Virtual community ini bisa disangkut-pautkan
dengan komunitas fans virtual
misalnya fans dari artis Korea akan
membuat sebuah akun yang berisi informasi artis yang diidolakannya. Pertanyaan seputar
hal ini pun dimunculkan oleh salah seorang teman saya dalam kelas Teknologi
Komunikasi, yaitu apakah virtual
community layaknya fanbase jika
melakukan kopdar (kopi darat) atau gathering
akan menjadi sebuah organic community?
Jawaban yang memungkinkan dari pertanyaan ini adalah virtual community yang bertemu dalam dunia nyata tidak akan dapat
menjadi sebuah organic community,
karena memang konsepnya yang berbeda. mereka hanya bertemu sesekali tidak
bertemu setiap hari sangat sulit untuk dapat dikatakan mereka berubah menjadi
sebuah komunitas organik. Lain ceritanya jika orang yang bertemu di virtual community itu bertemu di dunia
nyata kemudian memiliki ide untuk membuat sebuah organisasi yang nyata
berbentuk sedemikan rupa layaknya organisasi kebanyakan, maka hal ini dapat
dikatakan virtual community yang
berubah menjadi organic community.
Satu hal yang
perlu kita ketahui dalam dunia yang serba digital dan smart ini. Jangan sampai kita terbuai dengan nyamannya dunia maya
dan teknologi yang ada. Karena teknologi diciptakan oleh orang-orang yang ahli
pada bidang ini untuk memudahkan kita, untuk membantu kita bukan teknologi yang
membentuk kita dan kita yang jadi dikendalikan oleh teknologi. Visual community kenyataannya hanyalah
pelengkap organic community,
selamanya virtual community tidak
akan pernah menggantikan keberadaan organic
community. Kemudian lebih lanjut lagi, interaksi secara nyata tetap
diperlukan, karena tidak dapat dipungkiri kita berinteraksi dengan dengan orang
lain, pada saat ini, lebih sering melalui media sosial, bahkan ketika berkumpul
dengan teman-teman kita lebih asyik dengan gadget
yang kita miliki. Keberadaan teknologi komunikasi dan virtual community sesungguhnya akan mendekatkan kita dengan teman,
keluarga dan kerabat yang berada di tempat jauh, bukan menjauhkan yang dekat. Saya
sendiri sering mengingatkan diri saya untuk tidak seperti ini, tetapi
kenyataannya saya juga sangat terikat dengan media sosial dan smartphone yang ada di tangan.
Referensi:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication, London.