Friday, July 3, 2015

New Way Learning New Thing

Semester 4 ini, saya mengambil mata kuliah Teknologi Komunikasi. Dalam benak saya mata kuliah ini akan membahas lebih dalam tentang teknologi dan perkembangannya. Ternyata saya endapatkan lebih dari itu. Saat diampu oleh Pak Tri Adi Nugroho, saya belajar tentang bagaimana perkembangan media dan teknologi serta pengaruhnya dalam kehidupan kita. tidak hanya untuk remaja dan orang dewasa. Tetapi juga untuk anak-anak.

Pelajaran dan pemahaman baru ini diimbangi dengan penggunaan e-mail secara intens untuk pengiriman tugas. Jadi, kami yang mengambil mata kuliah Teknokom tidak lagi harus menyetak hardcopy-nya dan dikumpulkan di meja Pak Adi, tetapi sudah dalam bentuk softcopy yang tentu saja tidak mengkonsumsi banyak kertas hehe disisi lain kami yang mahasiswa rantauan tidak perlu mengeluarkan budget khusus untuk menyetak tugas-tugas itu.
Lain Pak Adi, lain juga dengan Pak Ali Rokhman. Beliau adalah dosen kedua dalam team teaching dengan Pak Adi. Pak Ali mengajar setelah UTS berakhir hingga UAS. Dengan beliau, kami tidak sekedar mendapatkan teori tetapi praktik penggunaan teknologi secara langsung dan cara belajar yang unik. Apa yang membuat unik?

1.   Penggunaan Facebook sebagai Media Belajar dan Media Berkomunikasi

Facebook memang paling banyak digunakan oleh masyarakat dunia. Saya sendiri dulu sempat sangat addicted dalam penggunaan jejerang social satu ini. Ini saya alami ketika saya masih SMP, sekitar tahun 2007 atau 2008. Saya lupa pasti, tetapi ketika banyak teman saya yang membuat Facebook saya ikut-ikutan buat saja.

Tidak bertahan lama saya menggunakan FB, tahun 2009 lagi ngehits Twitter. Lagi-lagi teman-teman saya heboh dengan Twitter, saya ikut-ikutan lagi. Ternyata, menurut saya kala itu, Twitter lebih simple dan lebih menyenangkan. Beda sama FB yang semakin lama semakin ribet dan semakin banyak orang-orang dengan nama aneh yang biasa disebut anak alay. Mereka merajai jagad facebook dengan nama yang dibuat-buat dan status yang menurut saya menganggu. Ketika 2010, saya menetapkan hati untuk berpindah ke Twitter dan mulai melangkah melupakan Facebook.
Tapi yang namanya berpindah ke lain hati saja susah, ini pindah jejaring social susah juga menurut saya. Sesekali saya masih mengunjungi FB. Sekedar membersihkan sarang laba-laba yang mungkin muncul saking lamanya saya tidak menggunakan FB hehe tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Ketika tahun 2013 lalu saya masuk dan diterima sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi Unsoed, saya diinvite untuk bisa bergabung di grup angkatan saya. Tidak mungkin menolak, saya langsung bergabung ketika diberi kabar untuk segera bergabung grup agar tidak tertinggal info yang mungkin di share di dalamnya. Saya merasa mulai dari tahun 2013 ini menjadi turning point saya untuk kembali aktif di Facebook.

Mendekati UTS dan UAS, grup angkatan saya di FB makin ramai, karena melalui grup ini kami saling bertukar materi kuliah, share tugas yang pernah dikerjakan. Share makalah dan lain sebagainyaaa. Hal ini terus berlanjut hingga hari ini. Tetapi, FB semakin saya butuhkan ketika mata kuliah Teknologi Komunikasi ini, mengharuskan saya untuk aktif kembali dan bergabung di grup kelas Teknokom A. Di grup, Pak Ali membagi informasi akan seperti apa kuliah dipertemuan selanjutnya, tugas apa yang harus dikerjakan perkelompok. Tak hanya itu saja, kita menjadi lebih mudah mendapatkan materi yang telah disampaikan oleh dosen pengampu. Penilaian pun terkesan transparan karena pada saat presentasi pertama terlihat jelas siapa-siapa saja yang tidak masuk dan siapa yang melakukan presentasi.

Jadi, bergabung lagi di Facebook setelah lama tidak aktif, terasa membawa manfaat lebih, ditambah lagi menjadi media belajar bagi kami. Dan melalui Facebook juga, istilah paperless benar-benar saya alami heheehe..

2.    Edmodo
Mungkin buat beberapa orang, edmodo bukanlah hal yang baru, tetapi tidak bagi saya hehe.. buat yang gak tahu edmodo itu apa, ini sekilas penjelasan edmodo~~



Edmodo salah satu media untuk kita belajar. Didalam edmodo ini nanti kita akan membentuk sebuah grup dengan adanya kode yang hanya diketahui oleh anggota yang akan bergabung. Sistemnya layaknya sebuah kelas tetapi online. Ada guru yang nantinya akan memberikan pelajaran, penjelasan, tugas/quiz hingga adanya penilaian yang biasa disebut progress. Ohya, edmodo ini salah satu bentuk e-learning. Selain ada guru, orang tua juga bisa mengawasi apa yang dilakukan anaknya dalam kelas online ini. Sangat unik untuk saya yang baru pertama kali menggunakannya.

Pertama kali bergabung, saya tidak terlalu antusias, karena saya kira belajar dengan edmodo akan membosankan. Ternyata kesan pertama saya SALAH sama sekali! Dengan edmodo terasa berbeda belajarnya. Bahkan untuk kuis pun menarik tidak monoton. Saya ingin cerita sedikit pengalaman saya menggunakan edmodo saat kuis online. Kuis pertama kali adalah tentang convergence dan diberi batas waktu 12 menit. Adanya batas waktu yang sebenarnya membuat siswanya waspada, takut dan lain sebagainya. Pertama kali saya mengerjakan kuis ini saya merasa pressure sekali. Entahlah mengapa begitu. Tetapi yang pasti rasanya berbeda belajar dan kuis online serta kuis di kehidupan nyata. Kuis-kuis berikutnya saya bisa rileks.

Teman-teman saya berbagi cerita kalau mereka pernah kelewatan kuis karena jaringan di tempat mereka tidak stabil, sehingga mau tidak mau merelakan kuis yang mereka kerjakan. Hal ini menjadi patokan bagi saya, berarti saya tidak akan mengerjakan kuis jika koneksi atau jaringan tidak stabil. Sejak kuis satu muncul, hingga kuis ke-10, saya selalu mencari jaringan tercepat dan waktu dimana orang belum banyak mengerjakan. Itu berarti kalau tidak pagi sekali, ketika saya menerima notifikasi e-mail, berarti malam hari. Dan saya selalu bersyukur akses internet yang saya dapat ketika ingin mengerjakan edmodo selalu lancar hehe..

Sebenarnya saya ingin sedikit (sekali) berbagi cerita bagaimana rasa yang saya dapatkan setiap saya take quiz di edmodo. Ada rasa deg-degan, takut dan lega ketika sudah melalui kuis. Kuis yang diberikan Pak Ali jujur saja tidak pernah susah, hanya sekedar memberikan komentar pada berita yang di tag, menceritakan pengalaman belanja di online shop dan hal-hal semacam itu. Tapi yang paling menegangkan adalah ketika kuis ke-10. Waktu hanya 17 menit sementara sebanyak 40 soal harus dikerjakan. Pressure sekali rasanya dan itu sangat tidak nyaman.

Overall, belajar Teknologi Komunikasi tidak pernah semenyenangkan ini. Semua terasa mudah ketika kamu mempunyai akses internet yang sangat berguna dan mendukung belajar kamu ngahaahahaha~~~

Saturday, April 11, 2015

Anak dan Media Baru : Yay or Nay?

Zaman yang sudah berkembang dengan segala kemudahan dan kecanggihan ini, membawa suatu perubahan bagi kehidupan kita juga. Waktu saya kecil, rasanya bermain bersama teman sebaya adalah saat yang menyenangkan, bahkan ketika pulang sekolah yang pertama di cari adalah teman bermain saya dirumah. Lupakan soal mengganti baju seragam dengan baju rumah, begitu sampai rumah saya langsung menaruh tas dan melesat kerumah teman saya. Saya dan teman-teman saya waktu itu hanya bermain permainan tradisional saja, seperti gobak sodor, benteng-bentengan, petak umpet, hingga bermian lompat tali dan bermain bulu tangkis ketika sedang musim Thomas and Uber Cup.

Sekarang kita bandingkan dengan anak-anak usia sekolah TK hingga SD pada jaman dimana semua hal adalah digital dan online. Anak-anak sekarang, termasuk sepupu dan keponakan saya, semuanya sangat mengenal apa itu gadget. Meskipun mereka hanya mengetahui suatu gadget hanya untuk bermain, tetapi mereka seakan tak dapat lepas dari gadget yang sudah dikenalnya, bahkan dari sejak ia belum bisa berbicara. Contohnya saja keponakan saya yang berusia 4 tahun. Sejak ia berusia dua tahun ia sudah diperkenalkan gadget oleh orang tuanya. Hal ini dimaksudkan agar anaknya juga bisa belajar mengenal hal-hal  baru dari kemudahan yang disajikan gadget tersebut. Memang keponakan saya daya tangkap dan daya pemahaman warnanya lebih cepat dari anak lain, tetapi disisi lain ada yang salah dari keponakan saya ini. Ia tak bisa lepas dari gadget yang diberikan kepadanya. Ia menjadi kecanduan main game, setiap hari memegang gadgetnya untuk bermian game yang jumlahnya banyak di gadget tersebut. Ia juga bisa marah bahkan menangis ketika gadget yang seharusnya dimainkan olehnya mati mendadak karena kehabisan baterai. Mengherankan memang ketika jaman berubah begitu cepat, saya sendiri merasa jaman saya dengan keponakan saya sangat berbeda. Entah karena umur saya yang kian hari kian bertambah atau memang semakin kesini, pola pikir saya juga berubah. Tetapi yang pasti hadirnya gadget atau media baru membawa dampak yang besar bagi kehidupan anak-anak.

Ada yang hal yang menarik yang dapat kita pelajari dan kita amati dari kecanduan anak akan gadget ini. Menurut Marsha Kinder (1991) Games have been increasingly intergrated within what Marsha Kinder (1991) calls the ‘transmedia intertextuality’ of contemporary children culture. Nah, menurut Kinder sendiri ternyata game yang berkembang di kalangan anak-anak adalah game yang diadaptasi dari suatu film yang memang terkenal dikalangan anak-anak. Kedua hal ini bersinergi karena para produsennya mengetahui bagaiman keadaan magsa pasarnya. Misalnya saja, Frozen yang sangan booming akhir-akhir ini, asal muasalnya adalah Film dengan judul yang sama. Tetapi produsen game mengembangkannya menjadi sebuah hal yang menarik untuk dimainkan tak hanya di tonton saja. Jadilah, game ini menjadi game yang banyak diunduh oleh orang tua untuk dapat dimainkan oleh si anak. Ternyata jika dilihat lebih jauh lagi, tak hanya game saja yang beintergrasi, tetapi juga media lain mengeluarkan produk lain dengan masih segarnya animo masyarakat dan sangat mudah menarik perhatian. Media lain disini maksudnya seperti kaos, tempat minum, tas, sepatu dan aksesoris lainnya. ini juga yang membuat anak-anak semakin menyukai suatu hal bahkan menjadi addict, karena apa yang ia pakai sehari-hari adalah apa yang mereka mainkan.

Disisi lain, muncul pernyataan dari Kinder juga masih pada tahun yang sama pula, media-based commodities of this kind have become a crucial factor in social construction of children’s peer group cultures. Di konsep ini, ternyata apa yang menjadi kesukaan anak-anak ini , malah membuat budaya pertemanan dalam kelompok bermain, mengalami perubahan juga. Akan muncul keadaan yang namanya social gap. Social gap ini akan muncul jika ada salah seorang anak dari kelompok pertemanan ini yang tidak mengikuti trend yang sedang berkembang seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Dan gap ini akan semakin besar jika anak mulai bertindak menjauhi anak tersebut.


Tetapi, saya sedikit berpikir bukan saja anak-anak yang menjadi pelaku penggunaan media baru, terutama game, dengan kecaduannya itu. Tetapi, anak-anak juga menjadi korban. Di Indonesia ini, sebagai negara berkembang, kita tidak menciptakan suatu produk gadget, melainka kita adalah pemakai. Dan konsumsi kita akan media ini menjadi semakin tak terkendali dengan semakin bervariasinya harga yang ditawarkan untuk sebuah produk. Nah, semakin banyaknya pilihan membuat orang tua si anak juga dapat menjatuhkan pilihan ingin membeli produk yang bagaimana. Orang tua sendiri menjadi konsumen juga. Mereka menggunakan gadget bahkan terkadang dengan intensitas yang lebih karena mereka mengetahui bahwa melalui gadget bukan hanya game saja yang dilakukan tetapi hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Tetapi mereka harusnya memahami bahwa merekalah yang menjadi kontrol bagi anak-anak mereka. Jika dari orang tuanya sudah menanamkan pada anak untuk menggunakan gadget sejak dini, tak dapat dipungkiri lagi anak akan menjadi pecandu gadget dengan tidak dengan mudah melepaskan gadget dari tangan mereka.

Dosen saya pada mata kuliah ini bertanya ada akhir presentasi dari kelompok teman saya, disini saya akan mencoba pertanyaan beliau, apa yang kira-kira akan saya lakukan 10-15 tahun lagi ketika memiliki anak yang tak lepas menggunakan gadget? Setelah membaca beebrapa artikel dan memahami lingkungan saya, saya tentu akan memilih tegas kepada anak saya nantinya jika ia memang tergantung dengan game. Karena jika anak sudah bermain game di gadget, maka kesempatannya untuk mencoba hal baru dengan orang tua atau bahkan dengan temannya menjadi berkurang. Serta waktu yang dihabiskan bersama orang tuanya pun kurang. Karena jujur saja, saya juga merasakan hal itu. Waktu saya, lebih banyak saya habiskan dengan media baru yang hadir di hidup saya, sehingga quality time dengan orang tua saya pun saya merasanya sangat kurang,

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, bagaimana anak akan memandang gadget sebagai sebuah kebutuhan atau tidak adalah tergantung dengan bagaimana orang tua ini bertindak. Ketegasan sangat diperlukan agar anak tidak begitu saja bergantung dengan lempengan besi bernama gadget.