Zaman yang sudah
berkembang dengan segala kemudahan dan kecanggihan ini, membawa suatu perubahan
bagi kehidupan kita juga. Waktu saya kecil, rasanya bermain bersama teman
sebaya adalah saat yang menyenangkan, bahkan ketika pulang sekolah yang pertama
di cari adalah teman bermain saya dirumah. Lupakan soal mengganti baju seragam
dengan baju rumah, begitu sampai rumah saya langsung menaruh tas dan melesat
kerumah teman saya. Saya dan teman-teman saya waktu itu hanya bermain permainan
tradisional saja, seperti gobak sodor, benteng-bentengan, petak umpet, hingga
bermian lompat tali dan bermain bulu tangkis ketika sedang musim Thomas and Uber
Cup.
Sekarang kita
bandingkan dengan anak-anak usia sekolah TK hingga SD pada jaman dimana semua
hal adalah digital dan online. Anak-anak sekarang, termasuk sepupu dan
keponakan saya, semuanya sangat mengenal apa itu gadget. Meskipun mereka hanya
mengetahui suatu gadget hanya untuk bermain, tetapi mereka seakan tak dapat
lepas dari gadget yang sudah dikenalnya, bahkan dari sejak ia belum bisa
berbicara. Contohnya saja keponakan saya yang berusia 4 tahun. Sejak ia berusia
dua tahun ia sudah diperkenalkan gadget oleh orang tuanya. Hal ini dimaksudkan
agar anaknya juga bisa belajar mengenal hal-hal
baru dari kemudahan yang disajikan gadget tersebut. Memang keponakan
saya daya tangkap dan daya pemahaman warnanya lebih cepat dari anak lain,
tetapi disisi lain ada yang salah dari keponakan saya ini. Ia tak bisa lepas
dari gadget yang diberikan kepadanya. Ia menjadi kecanduan main game, setiap
hari memegang gadgetnya untuk bermian game yang jumlahnya banyak di gadget
tersebut. Ia juga bisa marah bahkan menangis ketika gadget yang seharusnya
dimainkan olehnya mati mendadak karena kehabisan baterai. Mengherankan memang
ketika jaman berubah begitu cepat, saya sendiri merasa jaman saya dengan
keponakan saya sangat berbeda. Entah karena umur saya yang kian hari kian
bertambah atau memang semakin kesini, pola pikir saya juga berubah. Tetapi yang
pasti hadirnya gadget atau media baru membawa dampak yang besar bagi kehidupan
anak-anak.
Ada yang hal
yang menarik yang dapat kita pelajari dan kita amati dari kecanduan anak akan
gadget ini. Menurut Marsha Kinder (1991) Games
have been increasingly intergrated within what Marsha Kinder (1991) calls the
‘transmedia intertextuality’ of contemporary children culture. Nah, menurut
Kinder sendiri ternyata game yang berkembang di kalangan anak-anak adalah game
yang diadaptasi dari suatu film yang memang terkenal dikalangan anak-anak. Kedua
hal ini bersinergi karena para produsennya mengetahui bagaiman keadaan magsa
pasarnya. Misalnya saja, Frozen yang sangan booming akhir-akhir ini, asal
muasalnya adalah Film dengan judul yang sama. Tetapi produsen game mengembangkannya
menjadi sebuah hal yang menarik untuk dimainkan tak hanya di tonton saja. Jadilah,
game ini menjadi game yang banyak diunduh oleh orang tua untuk dapat dimainkan
oleh si anak. Ternyata jika dilihat lebih jauh lagi, tak hanya game saja yang
beintergrasi, tetapi juga media lain mengeluarkan produk lain dengan masih
segarnya animo masyarakat dan sangat mudah menarik perhatian. Media lain disini
maksudnya seperti kaos, tempat minum, tas, sepatu dan aksesoris lainnya. ini
juga yang membuat anak-anak semakin menyukai suatu hal bahkan menjadi addict,
karena apa yang ia pakai sehari-hari adalah apa yang mereka mainkan.
Disisi lain,
muncul pernyataan dari Kinder juga masih pada tahun yang sama pula, media-based commodities of this kind have
become a crucial factor in social construction of children’s peer group cultures.
Di konsep ini, ternyata apa yang menjadi kesukaan anak-anak ini , malah membuat
budaya pertemanan dalam kelompok bermain, mengalami perubahan juga. Akan muncul
keadaan yang namanya social gap. Social gap ini akan muncul jika ada
salah seorang anak dari kelompok pertemanan ini yang tidak mengikuti trend yang
sedang berkembang seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Dan gap ini akan
semakin besar jika anak mulai bertindak menjauhi anak tersebut.
Tetapi, saya sedikit berpikir bukan saja
anak-anak yang menjadi pelaku penggunaan media baru, terutama game, dengan
kecaduannya itu. Tetapi, anak-anak juga menjadi korban. Di Indonesia ini,
sebagai negara berkembang, kita tidak menciptakan suatu produk gadget, melainka
kita adalah pemakai. Dan konsumsi kita akan media ini menjadi semakin tak
terkendali dengan semakin bervariasinya harga yang ditawarkan untuk sebuah
produk. Nah, semakin banyaknya pilihan membuat orang tua si anak juga dapat
menjatuhkan pilihan ingin membeli produk yang bagaimana. Orang tua sendiri menjadi
konsumen juga. Mereka menggunakan gadget bahkan terkadang dengan intensitas
yang lebih karena mereka mengetahui bahwa melalui gadget bukan hanya game saja
yang dilakukan tetapi hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Tetapi mereka
harusnya memahami bahwa merekalah yang menjadi kontrol bagi anak-anak mereka. Jika
dari orang tuanya sudah menanamkan pada anak untuk menggunakan gadget sejak
dini, tak dapat dipungkiri lagi anak akan menjadi pecandu gadget dengan tidak
dengan mudah melepaskan gadget dari tangan mereka.
Dosen saya pada
mata kuliah ini bertanya ada akhir presentasi dari kelompok teman saya, disini
saya akan mencoba pertanyaan beliau, apa yang kira-kira akan saya lakukan 10-15
tahun lagi ketika memiliki anak yang tak lepas menggunakan gadget? Setelah membaca
beebrapa artikel dan memahami lingkungan saya, saya tentu akan memilih tegas
kepada anak saya nantinya jika ia memang tergantung dengan game. Karena jika
anak sudah bermain game di gadget, maka kesempatannya untuk mencoba hal baru
dengan orang tua atau bahkan dengan temannya menjadi berkurang. Serta waktu
yang dihabiskan bersama orang tuanya pun kurang. Karena jujur saja, saya juga
merasakan hal itu. Waktu saya, lebih banyak saya habiskan dengan media baru
yang hadir di hidup saya, sehingga quality time dengan orang tua saya pun saya
merasanya sangat kurang,
Dari sini dapat
kita simpulkan bahwa, bagaimana anak akan memandang gadget sebagai sebuah kebutuhan
atau tidak adalah tergantung dengan bagaimana orang tua ini bertindak. Ketegasan
sangat diperlukan agar anak tidak begitu saja bergantung dengan lempengan besi
bernama gadget.

No comments:
Post a Comment