Saturday, April 4, 2015

Saya Bergantung Sekali Sama Kamu

‘Duh, nyari sumber referensi dimana lagi, ya?’
‘Udah, googling aja.’
 ‘Paper yang sudah kamu bikin, tolong kirimin ke e-mail aku, ya?’
‘Tugas mahasiswa bisa dikumpulkan ke e-mail saya, karena daripada kertas yang kalian  kumpulkan menjadi bungkus kacang saja.’
‘Si X di Facebook, Twitter, Path, Timeline LINE di semua sosmed pokoknya ada dia. Update terus kerjaannya.’

Anda pernah mengalaminya? Atau anda, barangkali yang mengucapkannya? Berarti Anda tidak sendiri karena saya juga seperti itu. Apalagi mahasiswa dengan deadline tugas yang selalu mengejar, yang dikerjakannya setiap hari tidak lepas dari e-mail dan Google. Sadar atau tidak internet, dengan segala kemampuan dan jangkauannya adalah jalan bagi kita mendapatkan kemudahan. Dan hal ini membuat kita sebagai pengggunanya tidak dapat lepas begitu saja. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya teknologi yang mendukung internet tersebut, semakin membuatnya semakin sulit untuk dilepaskan.

Internet dianggap sebagai suatu eksperimen dari manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Awalnya, statement ini dianggap sebagai hal yang cemerlang karena membantu sekali untuk berinteraksi dengan keluarga, teman, atau kerabat yang berada nun jauh di sana yang jarang kita kunjungi atau kita temui. Tetapi, statement tadi menjadi sebuah hal yang mengerikan ketika seiring berjalannya waktu kita menjadi tergantung bahkan cenderung addict dengannya. Hal ini semakin diperkuat dengan pernyataan dari Marshall McLuhan yang mengatakan bahwa ‘kita menciptakan sebuah alat, tetapi alat itu yang nantinya akan membentuk (mengendalikan) kita’.


Mari, kita resapi dan kita refleksikan perkataan McLuhan dalam kehidupan kita sendiri. Dari awal kita bangun tidur apa yang pertama kita cari? Orang tua kita kah? Saudara kita kah? Nope. Technology. Gadget. Your smartphone. Kemudian, setelah menemukan smartphone apa yang selanjutnya yang ada di benak kita? Yak, betul sekali ‘berita apa ya pagi ini?’ ‘what happen with the world while i sleep?’. Lalu, kita akan menghabiskan beberapa menit, bahkan tanpa sadar beberapa jam pagi hari kita untuk mengecek apa yang terjadi di dunia ini. Kemudian saat bekerja, sekolah atau di kampus, kita membutuhkan teknologi dan internet untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Di sela-selanya kita masih bisa memanfaatkan waktu untuk sekedar bersosial media. Ngecek status Facebook, Twitter, dan lain-lain. Saat makan, beberapa dari kita bahkan tidak bisa lepas dari smartphone-nya, lebih lanjut lagi, ada orang yang sebelum menyentuh makanannya, dia harus memotonya dan mempostingnya di akun sosial media yang dimilikinya. Some of my friends and my sister do that. Baru kemudian menikmati makanannya. Lalu pada malam hari sebelum tidur, yang dilakukan adalah mengecek apa yang terjadi pada dunia seharian ini. Sekedar chat dengan teman, kekasih, gebetan. Hal ini terus berlanjut seperti itu, setiap hari selama hidup kita.

Marshall McLuhan bukan orang yang hidup di jaman serba digital ini, tetapi ajaibnya, dia bisa mengetahui bahwa apa yang dibuat oleh manusia pada saaat itu, di kemudian hari akan mengubah manusia itu sendiri. Saya sadar, dengan memiliki smartphone memang membantu saya dalam mengerjakan tugas, mengirimkan tugas, membantu saya berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan juga membantu saya dalam memperoleh informasi tentang hal-hal yang tidak saya ketahui. Tetapi, dengan smartphone juga membuat saya bergantung sekali dengan benda ini. Jika saya bosan hal yang saya lakukan adalah bermain dengan smartphone saya, menonton Youtube misalnya. Saya akan mati gaya, jika smartphone saya tidak ada kuota. Saya akan terlihat bingung jika smartphone saya mendadak mati, bahkan lebih jauh lagi saya melakukan media equation pada smartphone saya.

Media equation adalah sebuah teori dalam komunikasi yang menyamakan media seolah-olah media tersebut adalah orang yang dapat diajak berkomunikasi. Teori ini dicetuskan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass. Bagaimana bisa saya melakukan media equation pada smartphone saya? Jadi begini, sering sekali bahkan dengan kesadaran total, jika handphone saya lowbatt dan sudah muncul notifikasi untuk segera mengisi ulang baterainya saya menjadi panik mencari charger, sambil berkata, ‘sebentar ya, jangan mati dulu, maaf banget. Bentar.’ See? I do that media equation. Tidak hanya smartphone yang saya perlakukan seperti itu, netbook yang saya miliki pun saya ajak berkomunikasi. Jadi seperti ini, setahun yang lalu, netbook saya ngambek, beberapa huruf keyboardnya saat digunakan untuk mengetik tidak mau keluar, padahal saya sedang dikejar deadline tugas review dan pengerjaan makalah. Disitu saya antara marah dan sedih, kenapa netbook itu ngambek saat seperti ini. Sampai saya mengatakan seperti ini, ‘jangan rusak dulu ya, bertahan sebentar lagi. Aku masih banyak tugas.’ Dan entah bagaimana netbook saya jadi bisa di gunakan keyboardnya meskipun agak menekan dengan keras. Kemudian berangsur-angsur keyboardnya sudah bisa digunakan dengan normal, hingga saat ini ketika tulisan di blog ini ditulis saya masih setia dengan netbook yang sudah menemani saya 4 tahun ini.

Kalau dipikir-pikir kita semua bergantung dengan internet dan segala yag ada di dalamnya, bisakah kita lepas darinya? Semua jawaban ada di dalam diri kita masing-masing. Kalau saya, jujur saya tidak akan bisa lepas, sulit. Saya merasa saya tumbuh dengan internet, meskipun ketika saya SD masih bisa merasakan permainan tradisional, tetapi saya sudah diajarkan membuat email ketika saya kelas 5 SD. Mengurangi bermain dengan internet dan sosial media pun terasa sulit. Saya mungkin tidak seaktif dulu dalam hal berkicau, tetapi saya masih aktif melihat-lihat apa yang terjadi di dunia ini. Dengan hanya melihat-lihat seperti itu, saya jadi punya bahan untuk diperbincangkan ketika dengan teman saya. Dan begitulah cara saya mewarnai dunia dan kehidupan saya. Tanpa itu semua saya tidak yakin hidup saya akan menarik dan berwarna. Apakah kamu juga merasa seperti itu? Jika iya, welcome! We’re in the same boat, guys! 

No comments:

Post a Comment