‘Duh,
nyari sumber referensi dimana lagi, ya?’
‘Udah,
googling aja.’
‘Paper yang sudah kamu bikin, tolong kirimin
ke e-mail aku, ya?’
‘Tugas mahasiswa bisa dikumpulkan ke e-mail saya, karena daripada kertas yang
kalian kumpulkan menjadi bungkus kacang
saja.’
‘Si X di Facebook,
Twitter, Path, Timeline LINE di semua
sosmed pokoknya ada dia. Update terus kerjaannya.’
Anda pernah mengalaminya? Atau
anda, barangkali yang mengucapkannya? Berarti Anda tidak sendiri karena saya
juga seperti itu. Apalagi mahasiswa dengan deadline
tugas yang selalu mengejar, yang dikerjakannya setiap hari tidak lepas dari e-mail dan Google. Sadar atau tidak internet, dengan segala kemampuan dan
jangkauannya adalah jalan bagi kita mendapatkan kemudahan. Dan hal ini membuat
kita sebagai pengggunanya tidak dapat lepas begitu saja. Ditambah lagi dengan
semakin berkembangnya teknologi yang mendukung internet tersebut, semakin
membuatnya semakin sulit untuk dilepaskan.
Internet dianggap sebagai suatu
eksperimen dari manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Awalnya, statement ini dianggap sebagai hal yang
cemerlang karena membantu sekali untuk berinteraksi dengan keluarga, teman,
atau kerabat yang berada nun jauh di sana yang jarang kita kunjungi atau kita
temui. Tetapi, statement tadi menjadi
sebuah hal yang mengerikan ketika seiring berjalannya waktu kita menjadi
tergantung bahkan cenderung addict
dengannya. Hal ini semakin diperkuat dengan pernyataan dari Marshall McLuhan yang mengatakan bahwa
‘kita menciptakan sebuah alat, tetapi
alat itu yang nantinya akan membentuk (mengendalikan) kita’.
Mari, kita resapi dan kita
refleksikan perkataan McLuhan dalam kehidupan kita sendiri. Dari awal kita
bangun tidur apa yang pertama kita cari? Orang tua kita kah? Saudara kita kah? Nope. Technology. Gadget. Your smartphone.
Kemudian, setelah menemukan smartphone apa
yang selanjutnya yang ada di benak kita? Yak, betul sekali ‘berita apa ya pagi
ini?’ ‘what happen with the world while i
sleep?’. Lalu, kita akan menghabiskan beberapa menit, bahkan tanpa sadar
beberapa jam pagi hari kita untuk mengecek apa yang terjadi di dunia ini.
Kemudian saat bekerja, sekolah atau di kampus, kita membutuhkan teknologi dan
internet untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Di sela-selanya kita
masih bisa memanfaatkan waktu untuk sekedar bersosial media. Ngecek status Facebook, Twitter, dan lain-lain. Saat makan, beberapa dari kita
bahkan tidak bisa lepas dari smartphone-nya,
lebih lanjut lagi, ada orang yang sebelum menyentuh makanannya, dia harus
memotonya dan mempostingnya di akun sosial media yang dimilikinya. Some of my friends and my sister do that.
Baru kemudian menikmati makanannya. Lalu pada malam hari sebelum tidur, yang
dilakukan adalah mengecek apa yang terjadi pada dunia seharian ini. Sekedar
chat dengan teman, kekasih, gebetan. Hal ini terus berlanjut seperti itu,
setiap hari selama hidup kita.
Marshall McLuhan bukan orang
yang hidup di jaman serba digital ini, tetapi ajaibnya, dia bisa mengetahui
bahwa apa yang dibuat oleh manusia pada saaat itu, di kemudian hari akan
mengubah manusia itu sendiri. Saya sadar, dengan memiliki smartphone memang membantu saya dalam mengerjakan tugas,
mengirimkan tugas, membantu saya berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan juga
membantu saya dalam memperoleh informasi tentang hal-hal yang tidak saya
ketahui. Tetapi, dengan smartphone
juga membuat saya bergantung sekali dengan benda ini. Jika saya bosan hal yang
saya lakukan adalah bermain dengan smartphone
saya, menonton Youtube misalnya. Saya
akan mati gaya, jika smartphone saya tidak ada kuota. Saya
akan terlihat bingung jika smartphone
saya mendadak mati, bahkan lebih jauh lagi saya melakukan media equation pada smartphone
saya.
Media equation adalah sebuah teori dalam
komunikasi yang menyamakan media seolah-olah media tersebut adalah orang yang
dapat diajak berkomunikasi. Teori ini dicetuskan oleh Byron Reeves dan Clifford
Nass. Bagaimana bisa saya melakukan media equation pada smartphone saya? Jadi begini, sering sekali bahkan dengan kesadaran
total, jika handphone saya lowbatt dan sudah muncul notifikasi untuk segera
mengisi ulang baterainya saya menjadi panik mencari charger, sambil berkata,
‘sebentar ya, jangan mati dulu, maaf banget.
Bentar.’ See? I do that media equation. Tidak hanya smartphone yang saya perlakukan seperti itu, netbook yang saya miliki pun saya ajak berkomunikasi. Jadi seperti
ini, setahun yang lalu, netbook saya
ngambek, beberapa huruf keyboardnya saat
digunakan untuk mengetik tidak mau keluar, padahal saya sedang dikejar deadline tugas review dan pengerjaan makalah. Disitu saya antara marah dan sedih,
kenapa netbook itu ngambek saat
seperti ini. Sampai saya mengatakan seperti ini, ‘jangan rusak dulu ya,
bertahan sebentar lagi. Aku masih banyak tugas.’ Dan entah bagaimana netbook saya jadi bisa di gunakan keyboardnya meskipun agak menekan dengan
keras. Kemudian berangsur-angsur keyboardnya
sudah bisa digunakan dengan normal, hingga saat ini ketika tulisan di blog ini
ditulis saya masih setia dengan netbook
yang sudah menemani saya 4 tahun ini.
Kalau dipikir-pikir kita semua bergantung dengan internet dan
segala yag ada di dalamnya, bisakah kita lepas darinya? Semua jawaban ada di
dalam diri kita masing-masing. Kalau saya, jujur saya tidak akan bisa lepas,
sulit. Saya merasa saya tumbuh dengan internet, meskipun ketika saya SD masih
bisa merasakan permainan tradisional, tetapi saya sudah diajarkan membuat email
ketika saya kelas 5 SD. Mengurangi bermain dengan internet dan sosial media pun
terasa sulit. Saya mungkin tidak seaktif dulu dalam hal berkicau, tetapi saya
masih aktif melihat-lihat apa yang terjadi di dunia ini. Dengan hanya melihat-lihat
seperti itu, saya jadi punya bahan untuk diperbincangkan ketika dengan teman
saya. Dan begitulah cara saya mewarnai dunia dan kehidupan saya. Tanpa itu
semua saya tidak yakin hidup saya akan menarik dan berwarna. Apakah kamu juga
merasa seperti itu? Jika iya, welcome! We’re in the same boat, guys!

No comments:
Post a Comment