Friday, July 3, 2015

New Way Learning New Thing

Semester 4 ini, saya mengambil mata kuliah Teknologi Komunikasi. Dalam benak saya mata kuliah ini akan membahas lebih dalam tentang teknologi dan perkembangannya. Ternyata saya endapatkan lebih dari itu. Saat diampu oleh Pak Tri Adi Nugroho, saya belajar tentang bagaimana perkembangan media dan teknologi serta pengaruhnya dalam kehidupan kita. tidak hanya untuk remaja dan orang dewasa. Tetapi juga untuk anak-anak.

Pelajaran dan pemahaman baru ini diimbangi dengan penggunaan e-mail secara intens untuk pengiriman tugas. Jadi, kami yang mengambil mata kuliah Teknokom tidak lagi harus menyetak hardcopy-nya dan dikumpulkan di meja Pak Adi, tetapi sudah dalam bentuk softcopy yang tentu saja tidak mengkonsumsi banyak kertas hehe disisi lain kami yang mahasiswa rantauan tidak perlu mengeluarkan budget khusus untuk menyetak tugas-tugas itu.
Lain Pak Adi, lain juga dengan Pak Ali Rokhman. Beliau adalah dosen kedua dalam team teaching dengan Pak Adi. Pak Ali mengajar setelah UTS berakhir hingga UAS. Dengan beliau, kami tidak sekedar mendapatkan teori tetapi praktik penggunaan teknologi secara langsung dan cara belajar yang unik. Apa yang membuat unik?

1.   Penggunaan Facebook sebagai Media Belajar dan Media Berkomunikasi

Facebook memang paling banyak digunakan oleh masyarakat dunia. Saya sendiri dulu sempat sangat addicted dalam penggunaan jejerang social satu ini. Ini saya alami ketika saya masih SMP, sekitar tahun 2007 atau 2008. Saya lupa pasti, tetapi ketika banyak teman saya yang membuat Facebook saya ikut-ikutan buat saja.

Tidak bertahan lama saya menggunakan FB, tahun 2009 lagi ngehits Twitter. Lagi-lagi teman-teman saya heboh dengan Twitter, saya ikut-ikutan lagi. Ternyata, menurut saya kala itu, Twitter lebih simple dan lebih menyenangkan. Beda sama FB yang semakin lama semakin ribet dan semakin banyak orang-orang dengan nama aneh yang biasa disebut anak alay. Mereka merajai jagad facebook dengan nama yang dibuat-buat dan status yang menurut saya menganggu. Ketika 2010, saya menetapkan hati untuk berpindah ke Twitter dan mulai melangkah melupakan Facebook.
Tapi yang namanya berpindah ke lain hati saja susah, ini pindah jejaring social susah juga menurut saya. Sesekali saya masih mengunjungi FB. Sekedar membersihkan sarang laba-laba yang mungkin muncul saking lamanya saya tidak menggunakan FB hehe tetapi hal ini tidak berlangsung lama. Ketika tahun 2013 lalu saya masuk dan diterima sebagai mahasiswi Ilmu Komunikasi Unsoed, saya diinvite untuk bisa bergabung di grup angkatan saya. Tidak mungkin menolak, saya langsung bergabung ketika diberi kabar untuk segera bergabung grup agar tidak tertinggal info yang mungkin di share di dalamnya. Saya merasa mulai dari tahun 2013 ini menjadi turning point saya untuk kembali aktif di Facebook.

Mendekati UTS dan UAS, grup angkatan saya di FB makin ramai, karena melalui grup ini kami saling bertukar materi kuliah, share tugas yang pernah dikerjakan. Share makalah dan lain sebagainyaaa. Hal ini terus berlanjut hingga hari ini. Tetapi, FB semakin saya butuhkan ketika mata kuliah Teknologi Komunikasi ini, mengharuskan saya untuk aktif kembali dan bergabung di grup kelas Teknokom A. Di grup, Pak Ali membagi informasi akan seperti apa kuliah dipertemuan selanjutnya, tugas apa yang harus dikerjakan perkelompok. Tak hanya itu saja, kita menjadi lebih mudah mendapatkan materi yang telah disampaikan oleh dosen pengampu. Penilaian pun terkesan transparan karena pada saat presentasi pertama terlihat jelas siapa-siapa saja yang tidak masuk dan siapa yang melakukan presentasi.

Jadi, bergabung lagi di Facebook setelah lama tidak aktif, terasa membawa manfaat lebih, ditambah lagi menjadi media belajar bagi kami. Dan melalui Facebook juga, istilah paperless benar-benar saya alami heheehe..

2.    Edmodo
Mungkin buat beberapa orang, edmodo bukanlah hal yang baru, tetapi tidak bagi saya hehe.. buat yang gak tahu edmodo itu apa, ini sekilas penjelasan edmodo~~



Edmodo salah satu media untuk kita belajar. Didalam edmodo ini nanti kita akan membentuk sebuah grup dengan adanya kode yang hanya diketahui oleh anggota yang akan bergabung. Sistemnya layaknya sebuah kelas tetapi online. Ada guru yang nantinya akan memberikan pelajaran, penjelasan, tugas/quiz hingga adanya penilaian yang biasa disebut progress. Ohya, edmodo ini salah satu bentuk e-learning. Selain ada guru, orang tua juga bisa mengawasi apa yang dilakukan anaknya dalam kelas online ini. Sangat unik untuk saya yang baru pertama kali menggunakannya.

Pertama kali bergabung, saya tidak terlalu antusias, karena saya kira belajar dengan edmodo akan membosankan. Ternyata kesan pertama saya SALAH sama sekali! Dengan edmodo terasa berbeda belajarnya. Bahkan untuk kuis pun menarik tidak monoton. Saya ingin cerita sedikit pengalaman saya menggunakan edmodo saat kuis online. Kuis pertama kali adalah tentang convergence dan diberi batas waktu 12 menit. Adanya batas waktu yang sebenarnya membuat siswanya waspada, takut dan lain sebagainya. Pertama kali saya mengerjakan kuis ini saya merasa pressure sekali. Entahlah mengapa begitu. Tetapi yang pasti rasanya berbeda belajar dan kuis online serta kuis di kehidupan nyata. Kuis-kuis berikutnya saya bisa rileks.

Teman-teman saya berbagi cerita kalau mereka pernah kelewatan kuis karena jaringan di tempat mereka tidak stabil, sehingga mau tidak mau merelakan kuis yang mereka kerjakan. Hal ini menjadi patokan bagi saya, berarti saya tidak akan mengerjakan kuis jika koneksi atau jaringan tidak stabil. Sejak kuis satu muncul, hingga kuis ke-10, saya selalu mencari jaringan tercepat dan waktu dimana orang belum banyak mengerjakan. Itu berarti kalau tidak pagi sekali, ketika saya menerima notifikasi e-mail, berarti malam hari. Dan saya selalu bersyukur akses internet yang saya dapat ketika ingin mengerjakan edmodo selalu lancar hehe..

Sebenarnya saya ingin sedikit (sekali) berbagi cerita bagaimana rasa yang saya dapatkan setiap saya take quiz di edmodo. Ada rasa deg-degan, takut dan lega ketika sudah melalui kuis. Kuis yang diberikan Pak Ali jujur saja tidak pernah susah, hanya sekedar memberikan komentar pada berita yang di tag, menceritakan pengalaman belanja di online shop dan hal-hal semacam itu. Tapi yang paling menegangkan adalah ketika kuis ke-10. Waktu hanya 17 menit sementara sebanyak 40 soal harus dikerjakan. Pressure sekali rasanya dan itu sangat tidak nyaman.

Overall, belajar Teknologi Komunikasi tidak pernah semenyenangkan ini. Semua terasa mudah ketika kamu mempunyai akses internet yang sangat berguna dan mendukung belajar kamu ngahaahahaha~~~

Saturday, April 11, 2015

Anak dan Media Baru : Yay or Nay?

Zaman yang sudah berkembang dengan segala kemudahan dan kecanggihan ini, membawa suatu perubahan bagi kehidupan kita juga. Waktu saya kecil, rasanya bermain bersama teman sebaya adalah saat yang menyenangkan, bahkan ketika pulang sekolah yang pertama di cari adalah teman bermain saya dirumah. Lupakan soal mengganti baju seragam dengan baju rumah, begitu sampai rumah saya langsung menaruh tas dan melesat kerumah teman saya. Saya dan teman-teman saya waktu itu hanya bermain permainan tradisional saja, seperti gobak sodor, benteng-bentengan, petak umpet, hingga bermian lompat tali dan bermain bulu tangkis ketika sedang musim Thomas and Uber Cup.

Sekarang kita bandingkan dengan anak-anak usia sekolah TK hingga SD pada jaman dimana semua hal adalah digital dan online. Anak-anak sekarang, termasuk sepupu dan keponakan saya, semuanya sangat mengenal apa itu gadget. Meskipun mereka hanya mengetahui suatu gadget hanya untuk bermain, tetapi mereka seakan tak dapat lepas dari gadget yang sudah dikenalnya, bahkan dari sejak ia belum bisa berbicara. Contohnya saja keponakan saya yang berusia 4 tahun. Sejak ia berusia dua tahun ia sudah diperkenalkan gadget oleh orang tuanya. Hal ini dimaksudkan agar anaknya juga bisa belajar mengenal hal-hal  baru dari kemudahan yang disajikan gadget tersebut. Memang keponakan saya daya tangkap dan daya pemahaman warnanya lebih cepat dari anak lain, tetapi disisi lain ada yang salah dari keponakan saya ini. Ia tak bisa lepas dari gadget yang diberikan kepadanya. Ia menjadi kecanduan main game, setiap hari memegang gadgetnya untuk bermian game yang jumlahnya banyak di gadget tersebut. Ia juga bisa marah bahkan menangis ketika gadget yang seharusnya dimainkan olehnya mati mendadak karena kehabisan baterai. Mengherankan memang ketika jaman berubah begitu cepat, saya sendiri merasa jaman saya dengan keponakan saya sangat berbeda. Entah karena umur saya yang kian hari kian bertambah atau memang semakin kesini, pola pikir saya juga berubah. Tetapi yang pasti hadirnya gadget atau media baru membawa dampak yang besar bagi kehidupan anak-anak.

Ada yang hal yang menarik yang dapat kita pelajari dan kita amati dari kecanduan anak akan gadget ini. Menurut Marsha Kinder (1991) Games have been increasingly intergrated within what Marsha Kinder (1991) calls the ‘transmedia intertextuality’ of contemporary children culture. Nah, menurut Kinder sendiri ternyata game yang berkembang di kalangan anak-anak adalah game yang diadaptasi dari suatu film yang memang terkenal dikalangan anak-anak. Kedua hal ini bersinergi karena para produsennya mengetahui bagaiman keadaan magsa pasarnya. Misalnya saja, Frozen yang sangan booming akhir-akhir ini, asal muasalnya adalah Film dengan judul yang sama. Tetapi produsen game mengembangkannya menjadi sebuah hal yang menarik untuk dimainkan tak hanya di tonton saja. Jadilah, game ini menjadi game yang banyak diunduh oleh orang tua untuk dapat dimainkan oleh si anak. Ternyata jika dilihat lebih jauh lagi, tak hanya game saja yang beintergrasi, tetapi juga media lain mengeluarkan produk lain dengan masih segarnya animo masyarakat dan sangat mudah menarik perhatian. Media lain disini maksudnya seperti kaos, tempat minum, tas, sepatu dan aksesoris lainnya. ini juga yang membuat anak-anak semakin menyukai suatu hal bahkan menjadi addict, karena apa yang ia pakai sehari-hari adalah apa yang mereka mainkan.

Disisi lain, muncul pernyataan dari Kinder juga masih pada tahun yang sama pula, media-based commodities of this kind have become a crucial factor in social construction of children’s peer group cultures. Di konsep ini, ternyata apa yang menjadi kesukaan anak-anak ini , malah membuat budaya pertemanan dalam kelompok bermain, mengalami perubahan juga. Akan muncul keadaan yang namanya social gap. Social gap ini akan muncul jika ada salah seorang anak dari kelompok pertemanan ini yang tidak mengikuti trend yang sedang berkembang seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Dan gap ini akan semakin besar jika anak mulai bertindak menjauhi anak tersebut.


Tetapi, saya sedikit berpikir bukan saja anak-anak yang menjadi pelaku penggunaan media baru, terutama game, dengan kecaduannya itu. Tetapi, anak-anak juga menjadi korban. Di Indonesia ini, sebagai negara berkembang, kita tidak menciptakan suatu produk gadget, melainka kita adalah pemakai. Dan konsumsi kita akan media ini menjadi semakin tak terkendali dengan semakin bervariasinya harga yang ditawarkan untuk sebuah produk. Nah, semakin banyaknya pilihan membuat orang tua si anak juga dapat menjatuhkan pilihan ingin membeli produk yang bagaimana. Orang tua sendiri menjadi konsumen juga. Mereka menggunakan gadget bahkan terkadang dengan intensitas yang lebih karena mereka mengetahui bahwa melalui gadget bukan hanya game saja yang dilakukan tetapi hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Tetapi mereka harusnya memahami bahwa merekalah yang menjadi kontrol bagi anak-anak mereka. Jika dari orang tuanya sudah menanamkan pada anak untuk menggunakan gadget sejak dini, tak dapat dipungkiri lagi anak akan menjadi pecandu gadget dengan tidak dengan mudah melepaskan gadget dari tangan mereka.

Dosen saya pada mata kuliah ini bertanya ada akhir presentasi dari kelompok teman saya, disini saya akan mencoba pertanyaan beliau, apa yang kira-kira akan saya lakukan 10-15 tahun lagi ketika memiliki anak yang tak lepas menggunakan gadget? Setelah membaca beebrapa artikel dan memahami lingkungan saya, saya tentu akan memilih tegas kepada anak saya nantinya jika ia memang tergantung dengan game. Karena jika anak sudah bermain game di gadget, maka kesempatannya untuk mencoba hal baru dengan orang tua atau bahkan dengan temannya menjadi berkurang. Serta waktu yang dihabiskan bersama orang tuanya pun kurang. Karena jujur saja, saya juga merasakan hal itu. Waktu saya, lebih banyak saya habiskan dengan media baru yang hadir di hidup saya, sehingga quality time dengan orang tua saya pun saya merasanya sangat kurang,

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, bagaimana anak akan memandang gadget sebagai sebuah kebutuhan atau tidak adalah tergantung dengan bagaimana orang tua ini bertindak. Ketegasan sangat diperlukan agar anak tidak begitu saja bergantung dengan lempengan besi bernama gadget. 

Saturday, April 4, 2015

Saya Bergantung Sekali Sama Kamu

‘Duh, nyari sumber referensi dimana lagi, ya?’
‘Udah, googling aja.’
 ‘Paper yang sudah kamu bikin, tolong kirimin ke e-mail aku, ya?’
‘Tugas mahasiswa bisa dikumpulkan ke e-mail saya, karena daripada kertas yang kalian  kumpulkan menjadi bungkus kacang saja.’
‘Si X di Facebook, Twitter, Path, Timeline LINE di semua sosmed pokoknya ada dia. Update terus kerjaannya.’

Anda pernah mengalaminya? Atau anda, barangkali yang mengucapkannya? Berarti Anda tidak sendiri karena saya juga seperti itu. Apalagi mahasiswa dengan deadline tugas yang selalu mengejar, yang dikerjakannya setiap hari tidak lepas dari e-mail dan Google. Sadar atau tidak internet, dengan segala kemampuan dan jangkauannya adalah jalan bagi kita mendapatkan kemudahan. Dan hal ini membuat kita sebagai pengggunanya tidak dapat lepas begitu saja. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya teknologi yang mendukung internet tersebut, semakin membuatnya semakin sulit untuk dilepaskan.

Internet dianggap sebagai suatu eksperimen dari manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Awalnya, statement ini dianggap sebagai hal yang cemerlang karena membantu sekali untuk berinteraksi dengan keluarga, teman, atau kerabat yang berada nun jauh di sana yang jarang kita kunjungi atau kita temui. Tetapi, statement tadi menjadi sebuah hal yang mengerikan ketika seiring berjalannya waktu kita menjadi tergantung bahkan cenderung addict dengannya. Hal ini semakin diperkuat dengan pernyataan dari Marshall McLuhan yang mengatakan bahwa ‘kita menciptakan sebuah alat, tetapi alat itu yang nantinya akan membentuk (mengendalikan) kita’.


Mari, kita resapi dan kita refleksikan perkataan McLuhan dalam kehidupan kita sendiri. Dari awal kita bangun tidur apa yang pertama kita cari? Orang tua kita kah? Saudara kita kah? Nope. Technology. Gadget. Your smartphone. Kemudian, setelah menemukan smartphone apa yang selanjutnya yang ada di benak kita? Yak, betul sekali ‘berita apa ya pagi ini?’ ‘what happen with the world while i sleep?’. Lalu, kita akan menghabiskan beberapa menit, bahkan tanpa sadar beberapa jam pagi hari kita untuk mengecek apa yang terjadi di dunia ini. Kemudian saat bekerja, sekolah atau di kampus, kita membutuhkan teknologi dan internet untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Di sela-selanya kita masih bisa memanfaatkan waktu untuk sekedar bersosial media. Ngecek status Facebook, Twitter, dan lain-lain. Saat makan, beberapa dari kita bahkan tidak bisa lepas dari smartphone-nya, lebih lanjut lagi, ada orang yang sebelum menyentuh makanannya, dia harus memotonya dan mempostingnya di akun sosial media yang dimilikinya. Some of my friends and my sister do that. Baru kemudian menikmati makanannya. Lalu pada malam hari sebelum tidur, yang dilakukan adalah mengecek apa yang terjadi pada dunia seharian ini. Sekedar chat dengan teman, kekasih, gebetan. Hal ini terus berlanjut seperti itu, setiap hari selama hidup kita.

Marshall McLuhan bukan orang yang hidup di jaman serba digital ini, tetapi ajaibnya, dia bisa mengetahui bahwa apa yang dibuat oleh manusia pada saaat itu, di kemudian hari akan mengubah manusia itu sendiri. Saya sadar, dengan memiliki smartphone memang membantu saya dalam mengerjakan tugas, mengirimkan tugas, membantu saya berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan juga membantu saya dalam memperoleh informasi tentang hal-hal yang tidak saya ketahui. Tetapi, dengan smartphone juga membuat saya bergantung sekali dengan benda ini. Jika saya bosan hal yang saya lakukan adalah bermain dengan smartphone saya, menonton Youtube misalnya. Saya akan mati gaya, jika smartphone saya tidak ada kuota. Saya akan terlihat bingung jika smartphone saya mendadak mati, bahkan lebih jauh lagi saya melakukan media equation pada smartphone saya.

Media equation adalah sebuah teori dalam komunikasi yang menyamakan media seolah-olah media tersebut adalah orang yang dapat diajak berkomunikasi. Teori ini dicetuskan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass. Bagaimana bisa saya melakukan media equation pada smartphone saya? Jadi begini, sering sekali bahkan dengan kesadaran total, jika handphone saya lowbatt dan sudah muncul notifikasi untuk segera mengisi ulang baterainya saya menjadi panik mencari charger, sambil berkata, ‘sebentar ya, jangan mati dulu, maaf banget. Bentar.’ See? I do that media equation. Tidak hanya smartphone yang saya perlakukan seperti itu, netbook yang saya miliki pun saya ajak berkomunikasi. Jadi seperti ini, setahun yang lalu, netbook saya ngambek, beberapa huruf keyboardnya saat digunakan untuk mengetik tidak mau keluar, padahal saya sedang dikejar deadline tugas review dan pengerjaan makalah. Disitu saya antara marah dan sedih, kenapa netbook itu ngambek saat seperti ini. Sampai saya mengatakan seperti ini, ‘jangan rusak dulu ya, bertahan sebentar lagi. Aku masih banyak tugas.’ Dan entah bagaimana netbook saya jadi bisa di gunakan keyboardnya meskipun agak menekan dengan keras. Kemudian berangsur-angsur keyboardnya sudah bisa digunakan dengan normal, hingga saat ini ketika tulisan di blog ini ditulis saya masih setia dengan netbook yang sudah menemani saya 4 tahun ini.

Kalau dipikir-pikir kita semua bergantung dengan internet dan segala yag ada di dalamnya, bisakah kita lepas darinya? Semua jawaban ada di dalam diri kita masing-masing. Kalau saya, jujur saya tidak akan bisa lepas, sulit. Saya merasa saya tumbuh dengan internet, meskipun ketika saya SD masih bisa merasakan permainan tradisional, tetapi saya sudah diajarkan membuat email ketika saya kelas 5 SD. Mengurangi bermain dengan internet dan sosial media pun terasa sulit. Saya mungkin tidak seaktif dulu dalam hal berkicau, tetapi saya masih aktif melihat-lihat apa yang terjadi di dunia ini. Dengan hanya melihat-lihat seperti itu, saya jadi punya bahan untuk diperbincangkan ketika dengan teman saya. Dan begitulah cara saya mewarnai dunia dan kehidupan saya. Tanpa itu semua saya tidak yakin hidup saya akan menarik dan berwarna. Apakah kamu juga merasa seperti itu? Jika iya, welcome! We’re in the same boat, guys! 

Saturday, March 28, 2015

Virtual Community and Organic Community's Lives

Teknologi komunikasi saat ini berhubungan erat dengan virtual community. Virtual community pertama kali dicetuskan oleh Rheingold dalam bukunya yang berjudul The Virtual Community: Homesteading on the Electronic Frontier (2000), dalam buku ini Rheingold menceritakan pengalamannya tentang menjadi bagian dari komunitas virtual pertama, WELL (Whole Earth ‘Lectronic Link). Di dalam buku ini juga disebutkan bagaimana orang-orang menggunakan layar untuk berkomunikasi dengan orang lain. Mereka yang ada di virtual community bisa melakukan apa saja yang dilakukan orang-orang dalam dunia nyata seperti bertukar informasi,menemukan teman, bergosip, jatuh cinta, merayu atau flirting, bahkan hingga bertengkar dengan orang lain tetapi kita meninggalkan tubuh kita di belakang. Kita tidak bisa mencium seseorang dan tidak ada seorang pun yang kan memukul kita di hidung (1993). Virtual community ini muncul karena new media seperti internet.
New media ini, menurut Dennis McQuail (1995) memiliki beberapa karakteristik, salah satunya adalah peningkatan komputer dalam pekerjaan. Merujuk pada masa kini, pernyataan McQuail ini benar-benar terbukti. Di jaman yang serba digital ini sebuah pekerjaan tidak pernah bisa lepas dari komputer. Adanya komputer benar-benar mempermudah pekerjaan kita, contohnya saja untuk siswa dan mahasiswa, kita tak perlu lagi menulis dengan tangan untuk menyelesaikan sebuah tugas, semua bisa beres dengan hanya mengetik di keyboard komputer. tetapi, komputer tanpa di dukung dengan jaringan yang mumpuni seperti satelit jelas akan menjadi barang yang kegunaannya tidak maksimal seperti sekarang. McQuail juga menjelaskan karakteristik yang lainnya adalah satelit. Melalui satelit penyebaran berita, penyiaran berita melalui media seperti Tv dan Radio menjadi lebih cepat dan langsung dapat disampaikan ke khalayak luas.
Berkomunikasi melalui media tentu membawa sebuah dampak bagi penggunanya. Dampak positif dari penggunaan internet, secara umum mempermudah kita berkomunikasi dengan orang lain melalui sosial media contohnya, mencari informasi tentang hal-hal baru juga mudah. Tetapi, bukan berarti hal positif tersebut tidak ada dampak negatifnya. Dampak negatifnya adalah berkurangnya kualitas komunikasi tersebut. Deddy Mulyana menyebutkan kalau berkomunikasi dengan media dikhawatirkan akan menciptakan imperfect communication yaitu bentuk komunikasi yang tidak sempurna yang mengesampingkan konsep meet dan face-to-face yang nyata.
Adanya virtual community pasti berhubungan erat dengan organic community atau offline community. Komunitas organik ini adalah kehidupan nyata yang kita jalani bukan dunia maya. Organic community terikat oleh ruang dan waktu, kita tidak bebas melakukan perbincangan dengan orang lain pada tengah malam, misalnya. Berbeda dengan virtual community yang bebas kapan saja tanpa terikat ruang dan waktu. Kemudian, dalam organic community anggotanya saling terikat berdasarkan tingkatan umur.
Mereka yang berada di virtual community adalah orang-orang dengan latar belakang berbeda, tetapi mereka terikat oleh satu aktivitas khusus, misalnya untuk berkomunikasi saja, atau bermain game online. Mereka yang terlalu aktif di virtual community cenderung memiliki kebiasaan buruk, akan berangsur-angsur meninggalkan organic community karena mereka merasa tidak ada yang sama dengan mereka layaknya dalam virtual community. Biasanya dalam virtual community ini berisi orang-orang dengan kepentingan yang sama misalnya adanya milis pecinta novel klasik. Di organic community sulit menemukan orang yang menyukai novel klasik karena terbatasnya ruang tadi, tetapi dalam virtual community semua terlihat mudah dan mungkin.
Identitas pun diperlukan dalam virtual community. Jika dalam organic community identitas kita adalah nama yang diberikan oleh orang tua kita dengan segala sifat dan watak yang ada dalam diri kita, maka dalam virtual community, kita sebagai pengguna internet kita jugalah yang membentuk identitas diri kita. Kita dapat menentukan karakter seperti apa yang akan kita tampilkan di dunia maya ini. Ingin menjadi pribadi yang baik atau yang buruk. Identitas ini terlihat jika kita sedang mengobrol dengan orang lain seperti nama ID. Nama ID yang paling terlihat adalah nama yang muncul ketika kita akan main game online. Biasanya dalam game kita diminta untuk menuliskan nama karakter yang akan kita mainkan. Dari sini dapat terlihat bahwa kita sudah membuat identitas kita dalam dunia maya.
Virtual community ini bisa disangkut-pautkan dengan komunitas fans virtual misalnya fans dari artis Korea akan membuat sebuah akun yang berisi informasi artis yang diidolakannya. Pertanyaan seputar hal ini pun dimunculkan oleh salah seorang teman saya dalam kelas Teknologi Komunikasi, yaitu apakah virtual community layaknya fanbase jika melakukan kopdar (kopi darat) atau gathering akan menjadi sebuah organic community? Jawaban yang memungkinkan dari pertanyaan ini adalah virtual community yang bertemu dalam dunia nyata tidak akan dapat menjadi sebuah organic community, karena memang konsepnya yang berbeda. mereka hanya bertemu sesekali tidak bertemu setiap hari sangat sulit untuk dapat dikatakan mereka berubah menjadi sebuah komunitas organik. Lain ceritanya jika orang yang bertemu di virtual community itu bertemu di dunia nyata kemudian memiliki ide untuk membuat sebuah organisasi yang nyata berbentuk sedemikan rupa layaknya organisasi kebanyakan, maka hal ini dapat dikatakan virtual community yang berubah menjadi organic community.

Satu hal yang perlu kita ketahui dalam dunia yang serba digital dan smart ini. Jangan sampai kita terbuai dengan nyamannya dunia maya dan teknologi yang ada. Karena teknologi diciptakan oleh orang-orang yang ahli pada bidang ini untuk memudahkan kita, untuk membantu kita bukan teknologi yang membentuk kita dan kita yang jadi dikendalikan oleh teknologi. Visual community kenyataannya hanyalah pelengkap organic community, selamanya virtual community tidak akan pernah menggantikan keberadaan organic community. Kemudian lebih lanjut lagi, interaksi secara nyata tetap diperlukan, karena tidak dapat dipungkiri kita berinteraksi dengan dengan orang lain, pada saat ini, lebih sering melalui media sosial, bahkan ketika berkumpul dengan teman-teman kita lebih asyik dengan gadget yang kita miliki. Keberadaan teknologi komunikasi dan virtual community sesungguhnya akan mendekatkan kita dengan teman, keluarga dan kerabat yang berada di tempat jauh, bukan menjauhkan yang dekat. Saya sendiri sering mengingatkan diri saya untuk tidak seperti ini, tetapi kenyataannya saya juga sangat terikat dengan media sosial dan smartphone yang ada di tangan.

Referensi:
Lievrouw, Leah A. & Sonia Livingstone. 2006, Handbook of New Media: Social Shaping and Social Consequences of ITCs, Sage Publication, London.