Saturday, April 11, 2015

Anak dan Media Baru : Yay or Nay?

Zaman yang sudah berkembang dengan segala kemudahan dan kecanggihan ini, membawa suatu perubahan bagi kehidupan kita juga. Waktu saya kecil, rasanya bermain bersama teman sebaya adalah saat yang menyenangkan, bahkan ketika pulang sekolah yang pertama di cari adalah teman bermain saya dirumah. Lupakan soal mengganti baju seragam dengan baju rumah, begitu sampai rumah saya langsung menaruh tas dan melesat kerumah teman saya. Saya dan teman-teman saya waktu itu hanya bermain permainan tradisional saja, seperti gobak sodor, benteng-bentengan, petak umpet, hingga bermian lompat tali dan bermain bulu tangkis ketika sedang musim Thomas and Uber Cup.

Sekarang kita bandingkan dengan anak-anak usia sekolah TK hingga SD pada jaman dimana semua hal adalah digital dan online. Anak-anak sekarang, termasuk sepupu dan keponakan saya, semuanya sangat mengenal apa itu gadget. Meskipun mereka hanya mengetahui suatu gadget hanya untuk bermain, tetapi mereka seakan tak dapat lepas dari gadget yang sudah dikenalnya, bahkan dari sejak ia belum bisa berbicara. Contohnya saja keponakan saya yang berusia 4 tahun. Sejak ia berusia dua tahun ia sudah diperkenalkan gadget oleh orang tuanya. Hal ini dimaksudkan agar anaknya juga bisa belajar mengenal hal-hal  baru dari kemudahan yang disajikan gadget tersebut. Memang keponakan saya daya tangkap dan daya pemahaman warnanya lebih cepat dari anak lain, tetapi disisi lain ada yang salah dari keponakan saya ini. Ia tak bisa lepas dari gadget yang diberikan kepadanya. Ia menjadi kecanduan main game, setiap hari memegang gadgetnya untuk bermian game yang jumlahnya banyak di gadget tersebut. Ia juga bisa marah bahkan menangis ketika gadget yang seharusnya dimainkan olehnya mati mendadak karena kehabisan baterai. Mengherankan memang ketika jaman berubah begitu cepat, saya sendiri merasa jaman saya dengan keponakan saya sangat berbeda. Entah karena umur saya yang kian hari kian bertambah atau memang semakin kesini, pola pikir saya juga berubah. Tetapi yang pasti hadirnya gadget atau media baru membawa dampak yang besar bagi kehidupan anak-anak.

Ada yang hal yang menarik yang dapat kita pelajari dan kita amati dari kecanduan anak akan gadget ini. Menurut Marsha Kinder (1991) Games have been increasingly intergrated within what Marsha Kinder (1991) calls the ‘transmedia intertextuality’ of contemporary children culture. Nah, menurut Kinder sendiri ternyata game yang berkembang di kalangan anak-anak adalah game yang diadaptasi dari suatu film yang memang terkenal dikalangan anak-anak. Kedua hal ini bersinergi karena para produsennya mengetahui bagaiman keadaan magsa pasarnya. Misalnya saja, Frozen yang sangan booming akhir-akhir ini, asal muasalnya adalah Film dengan judul yang sama. Tetapi produsen game mengembangkannya menjadi sebuah hal yang menarik untuk dimainkan tak hanya di tonton saja. Jadilah, game ini menjadi game yang banyak diunduh oleh orang tua untuk dapat dimainkan oleh si anak. Ternyata jika dilihat lebih jauh lagi, tak hanya game saja yang beintergrasi, tetapi juga media lain mengeluarkan produk lain dengan masih segarnya animo masyarakat dan sangat mudah menarik perhatian. Media lain disini maksudnya seperti kaos, tempat minum, tas, sepatu dan aksesoris lainnya. ini juga yang membuat anak-anak semakin menyukai suatu hal bahkan menjadi addict, karena apa yang ia pakai sehari-hari adalah apa yang mereka mainkan.

Disisi lain, muncul pernyataan dari Kinder juga masih pada tahun yang sama pula, media-based commodities of this kind have become a crucial factor in social construction of children’s peer group cultures. Di konsep ini, ternyata apa yang menjadi kesukaan anak-anak ini , malah membuat budaya pertemanan dalam kelompok bermain, mengalami perubahan juga. Akan muncul keadaan yang namanya social gap. Social gap ini akan muncul jika ada salah seorang anak dari kelompok pertemanan ini yang tidak mengikuti trend yang sedang berkembang seperti apa yang dilakukan teman-temannya. Dan gap ini akan semakin besar jika anak mulai bertindak menjauhi anak tersebut.


Tetapi, saya sedikit berpikir bukan saja anak-anak yang menjadi pelaku penggunaan media baru, terutama game, dengan kecaduannya itu. Tetapi, anak-anak juga menjadi korban. Di Indonesia ini, sebagai negara berkembang, kita tidak menciptakan suatu produk gadget, melainka kita adalah pemakai. Dan konsumsi kita akan media ini menjadi semakin tak terkendali dengan semakin bervariasinya harga yang ditawarkan untuk sebuah produk. Nah, semakin banyaknya pilihan membuat orang tua si anak juga dapat menjatuhkan pilihan ingin membeli produk yang bagaimana. Orang tua sendiri menjadi konsumen juga. Mereka menggunakan gadget bahkan terkadang dengan intensitas yang lebih karena mereka mengetahui bahwa melalui gadget bukan hanya game saja yang dilakukan tetapi hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaan mereka. Tetapi mereka harusnya memahami bahwa merekalah yang menjadi kontrol bagi anak-anak mereka. Jika dari orang tuanya sudah menanamkan pada anak untuk menggunakan gadget sejak dini, tak dapat dipungkiri lagi anak akan menjadi pecandu gadget dengan tidak dengan mudah melepaskan gadget dari tangan mereka.

Dosen saya pada mata kuliah ini bertanya ada akhir presentasi dari kelompok teman saya, disini saya akan mencoba pertanyaan beliau, apa yang kira-kira akan saya lakukan 10-15 tahun lagi ketika memiliki anak yang tak lepas menggunakan gadget? Setelah membaca beebrapa artikel dan memahami lingkungan saya, saya tentu akan memilih tegas kepada anak saya nantinya jika ia memang tergantung dengan game. Karena jika anak sudah bermain game di gadget, maka kesempatannya untuk mencoba hal baru dengan orang tua atau bahkan dengan temannya menjadi berkurang. Serta waktu yang dihabiskan bersama orang tuanya pun kurang. Karena jujur saja, saya juga merasakan hal itu. Waktu saya, lebih banyak saya habiskan dengan media baru yang hadir di hidup saya, sehingga quality time dengan orang tua saya pun saya merasanya sangat kurang,

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa, bagaimana anak akan memandang gadget sebagai sebuah kebutuhan atau tidak adalah tergantung dengan bagaimana orang tua ini bertindak. Ketegasan sangat diperlukan agar anak tidak begitu saja bergantung dengan lempengan besi bernama gadget. 

Saturday, April 4, 2015

Saya Bergantung Sekali Sama Kamu

‘Duh, nyari sumber referensi dimana lagi, ya?’
‘Udah, googling aja.’
 ‘Paper yang sudah kamu bikin, tolong kirimin ke e-mail aku, ya?’
‘Tugas mahasiswa bisa dikumpulkan ke e-mail saya, karena daripada kertas yang kalian  kumpulkan menjadi bungkus kacang saja.’
‘Si X di Facebook, Twitter, Path, Timeline LINE di semua sosmed pokoknya ada dia. Update terus kerjaannya.’

Anda pernah mengalaminya? Atau anda, barangkali yang mengucapkannya? Berarti Anda tidak sendiri karena saya juga seperti itu. Apalagi mahasiswa dengan deadline tugas yang selalu mengejar, yang dikerjakannya setiap hari tidak lepas dari e-mail dan Google. Sadar atau tidak internet, dengan segala kemampuan dan jangkauannya adalah jalan bagi kita mendapatkan kemudahan. Dan hal ini membuat kita sebagai pengggunanya tidak dapat lepas begitu saja. Ditambah lagi dengan semakin berkembangnya teknologi yang mendukung internet tersebut, semakin membuatnya semakin sulit untuk dilepaskan.

Internet dianggap sebagai suatu eksperimen dari manusia untuk berkomunikasi dengan manusia yang lain. Awalnya, statement ini dianggap sebagai hal yang cemerlang karena membantu sekali untuk berinteraksi dengan keluarga, teman, atau kerabat yang berada nun jauh di sana yang jarang kita kunjungi atau kita temui. Tetapi, statement tadi menjadi sebuah hal yang mengerikan ketika seiring berjalannya waktu kita menjadi tergantung bahkan cenderung addict dengannya. Hal ini semakin diperkuat dengan pernyataan dari Marshall McLuhan yang mengatakan bahwa ‘kita menciptakan sebuah alat, tetapi alat itu yang nantinya akan membentuk (mengendalikan) kita’.


Mari, kita resapi dan kita refleksikan perkataan McLuhan dalam kehidupan kita sendiri. Dari awal kita bangun tidur apa yang pertama kita cari? Orang tua kita kah? Saudara kita kah? Nope. Technology. Gadget. Your smartphone. Kemudian, setelah menemukan smartphone apa yang selanjutnya yang ada di benak kita? Yak, betul sekali ‘berita apa ya pagi ini?’ ‘what happen with the world while i sleep?’. Lalu, kita akan menghabiskan beberapa menit, bahkan tanpa sadar beberapa jam pagi hari kita untuk mengecek apa yang terjadi di dunia ini. Kemudian saat bekerja, sekolah atau di kampus, kita membutuhkan teknologi dan internet untuk membantu kita menyelesaikan pekerjaan kita. Di sela-selanya kita masih bisa memanfaatkan waktu untuk sekedar bersosial media. Ngecek status Facebook, Twitter, dan lain-lain. Saat makan, beberapa dari kita bahkan tidak bisa lepas dari smartphone-nya, lebih lanjut lagi, ada orang yang sebelum menyentuh makanannya, dia harus memotonya dan mempostingnya di akun sosial media yang dimilikinya. Some of my friends and my sister do that. Baru kemudian menikmati makanannya. Lalu pada malam hari sebelum tidur, yang dilakukan adalah mengecek apa yang terjadi pada dunia seharian ini. Sekedar chat dengan teman, kekasih, gebetan. Hal ini terus berlanjut seperti itu, setiap hari selama hidup kita.

Marshall McLuhan bukan orang yang hidup di jaman serba digital ini, tetapi ajaibnya, dia bisa mengetahui bahwa apa yang dibuat oleh manusia pada saaat itu, di kemudian hari akan mengubah manusia itu sendiri. Saya sadar, dengan memiliki smartphone memang membantu saya dalam mengerjakan tugas, mengirimkan tugas, membantu saya berkomunikasi dengan keluarga, teman, dan juga membantu saya dalam memperoleh informasi tentang hal-hal yang tidak saya ketahui. Tetapi, dengan smartphone juga membuat saya bergantung sekali dengan benda ini. Jika saya bosan hal yang saya lakukan adalah bermain dengan smartphone saya, menonton Youtube misalnya. Saya akan mati gaya, jika smartphone saya tidak ada kuota. Saya akan terlihat bingung jika smartphone saya mendadak mati, bahkan lebih jauh lagi saya melakukan media equation pada smartphone saya.

Media equation adalah sebuah teori dalam komunikasi yang menyamakan media seolah-olah media tersebut adalah orang yang dapat diajak berkomunikasi. Teori ini dicetuskan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass. Bagaimana bisa saya melakukan media equation pada smartphone saya? Jadi begini, sering sekali bahkan dengan kesadaran total, jika handphone saya lowbatt dan sudah muncul notifikasi untuk segera mengisi ulang baterainya saya menjadi panik mencari charger, sambil berkata, ‘sebentar ya, jangan mati dulu, maaf banget. Bentar.’ See? I do that media equation. Tidak hanya smartphone yang saya perlakukan seperti itu, netbook yang saya miliki pun saya ajak berkomunikasi. Jadi seperti ini, setahun yang lalu, netbook saya ngambek, beberapa huruf keyboardnya saat digunakan untuk mengetik tidak mau keluar, padahal saya sedang dikejar deadline tugas review dan pengerjaan makalah. Disitu saya antara marah dan sedih, kenapa netbook itu ngambek saat seperti ini. Sampai saya mengatakan seperti ini, ‘jangan rusak dulu ya, bertahan sebentar lagi. Aku masih banyak tugas.’ Dan entah bagaimana netbook saya jadi bisa di gunakan keyboardnya meskipun agak menekan dengan keras. Kemudian berangsur-angsur keyboardnya sudah bisa digunakan dengan normal, hingga saat ini ketika tulisan di blog ini ditulis saya masih setia dengan netbook yang sudah menemani saya 4 tahun ini.

Kalau dipikir-pikir kita semua bergantung dengan internet dan segala yag ada di dalamnya, bisakah kita lepas darinya? Semua jawaban ada di dalam diri kita masing-masing. Kalau saya, jujur saya tidak akan bisa lepas, sulit. Saya merasa saya tumbuh dengan internet, meskipun ketika saya SD masih bisa merasakan permainan tradisional, tetapi saya sudah diajarkan membuat email ketika saya kelas 5 SD. Mengurangi bermain dengan internet dan sosial media pun terasa sulit. Saya mungkin tidak seaktif dulu dalam hal berkicau, tetapi saya masih aktif melihat-lihat apa yang terjadi di dunia ini. Dengan hanya melihat-lihat seperti itu, saya jadi punya bahan untuk diperbincangkan ketika dengan teman saya. Dan begitulah cara saya mewarnai dunia dan kehidupan saya. Tanpa itu semua saya tidak yakin hidup saya akan menarik dan berwarna. Apakah kamu juga merasa seperti itu? Jika iya, welcome! We’re in the same boat, guys!